Kredit Perbankan Balikpapan Tembus Rp42 Triliun, Tapi Kok Tabungan Nasabah Malah Anjlok?
BALIKPAPAN, Kaltimku.id – Aktivitas ekonomi di wilayah Balikpapan dan sekitarnya masih menunjukkan denyut yang cukup kuat pada triwulan III 2026. Penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan melesat hingga Rp42,53 triliun, alias tumbuh 7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Namun, tren positif penyaluran dana tersebut berbanding terbalik dengan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Simpanan masyarakat di perbankan justru menyusut 10,42 persen menjadi Rp44,58 triliun.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menegaskan bahwa fungsi intermediasi perbankan di wilayahnya sejauh ini tetap solid dalam menopang pergerakan bisnis, penyerapan tenaga kerja, serta roda perekonomian lokal.
“Penguatan DPK perlu didorong untuk mendukung kredit tumbuh lebih tinggi, sehingga dapat memperkuat kontribusi perbankan terhadap perekonomian daerah,” ujar Robi dalam keterangan resminya, Kamis (29/10/2026).
Modalnya Naik, Pembangunan IKN Landai
Secara cakupan wilayah, KPwBI Balikpapan membawahi Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser. Laju kredit pada triwulan III 2026 ini sebenarnya mengalami perlambatan jika dibandingkan triwulan II yang sempat menyentuh angka 17,66 persen (yoy).
Meskipun melambat, struktur pengucuran kredit masih didominasi oleh sejumlah sektor vital. Kredit Investasi tumbuh 7,86% (Pangsa terbesar: 39,88% dari total kredit), kredit konsumsi Naik 6,43%z kredit Modal Kerja meningkat 6,46%.
Jika ditinjau dari lapangan usaha, porsi penyaluran dana paling besar mengalir ke sektor Konstruksi 18,40% (mengalami koreksi 2,17% akibat aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara yang masih terbatas), sektor Perdagangan: 14,67% (tumbuh signifikan 12,62%), sektor Pertanian: 11,12% (tumbuh 4,67%).
UMKM Makin Sehat, Rasio LDR Melonjak
Kabar baik juga datang dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Penyaluran kredit UMKM mencatatkan angka Rp12,88 triliun (tumbuh 0,34% yoy). Menariknya, kualitas pinjaman UMKM makin menyehatkan—terbukti dari rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang sukses ditekan dari 4,2 persen menjadi 3,6 persen.
Secara keseluruhan, risiko kredit di Balikpapan tergolong sangat aman. Rasio NPL total perbankan melandai ke 2,34 persen (turun dari 2,57% pada triwulan sebelumnya), jauh di bawah ambang batas aman regulator sebesar 5 persen.
Namun, penurunan simpanan masyarakat (DPK) di satu sisi dan terus mengalirnya kredit di sisi lain membuat rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) melonjak tajam dari 83,82 persen menjadi 95,39 persen.
Guna menjaga dinamika ini tetap sehat, BI Balikpapan berkomitmen memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah dan pelaku industri perbankan demi mendorong pembiayaan sektor riil yang inklusif dan berkelanjutan.*



