JAKARTA — Dua laga di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 sudah berlalu, namun ketenangan belum menyelimuti hati para pendukung Tim Garuda. Kemenangan 2-0 atas Singapura dan hasil imbang 0-0 melawan Malaysia memang belum menelan kekalahan, tetapi permainan yang ditampilkan belum sepenuhnya memuaskan puluhan ribu suporter yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Suara cibiran mulai terdengar nyaring dari tribun. Banyak pengamat dan penggemar menilai skenario permainan yang disusun pelatih kepala John Herdman terlihat kaku, cenderung berulang, dan kurang bervariasi — padahal ia menurunkan susunan pemain terbaik yang dimiliki bangsa ini. Serangan kerap terhenti di depan gawang, alur permainan terasa lambat, dan kecemasan perlahan merayap: apakah tim ini mampu melangkah lebih jauh, atau justru terhenti di babak penyisihan?
Keresahan itu nyata. Nama-nama besar seperti Marten Paes dan rekan-rekannya di lini depan belum tampil tajam seperti yang diharapkan. Peluang tercipta, namun gagal dikonversi menjadi gol. Hasil yang belum meyakinkan membuat para suporter gelisah, takut mimpi melangkah ke babak final harus kandas di tengah jalan.

Namun di tengah badai keraguan itu, para pemain justru menegaskan: perjuangan belum berakhir, pintu harapan masih terbuka lebar.
Bek andalan Timnas Indonesia, Justin Hubner, tampil tenang namun tegas menanggapi gelombang kritik yang datang. Ia meminta seluruh pihak tidak kehilangan harapan, karena peluang lolos ke babak final masih sepenuhnya berada di tangan sendiri.
“Kami belum kiamat. Jangan putus asa, jangan menyerah sebelum peluit akhir berbunyi. Semua masih bisa diatur, dan kami akan buktikan di lapangan,” ucapnya dengan keyakinan penuh.
Jalan menuju ke babak puncak sudah terlihat jelas. Kamis, 1 Oktober 2026, kembali tarung di kandang sendiri di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Tim Garuda akan bertemu Bangladesh dalam laga penentuan hidup-mati. Pertandingan dimulai pukul 19.30 WITA, berbarengan dengan pertandingan Malaysia melawan Singapura yang digelar di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung — hasil laga itu juga akan menjadi penentu nasib Indonesia.
Kartu merah untuk Thom Haye di menit ke 37. (foto: julak Dillah)
Justin menyatakan keyakinannya bahwa timnya mampu tampil gemilang dan meraih kemenangan dengan selisih gol yang meyakinkan. Namun ia juga memperingatkan rekan-rekannya untuk tidak terlena. Meski Bangladesh sudah dipastikan tersisih lebih awal — tumbang telak 0-3 dari Malaysia dan kalah 0-1 dari Singapura — mereka tetap tim nasional yang pantas dihormati. Kemenangan tak akan datang sendiri; harus diperjuangkan dengan keringat dan ketegasan dari detik pertama.
Pesan serupa juga disampaikan langsung oleh Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir. Ia meminta seluruh skuad tidak memandang sebelah mata lawan terakhir ini, sekaligus mengajak para pendukung kembali memberikan dukungan penuh tanpa syarat.
“Kami optimis bisa meraih kemenangan, tetapi jangan sekali-kali meremehkan lawan. Hormati mereka, mainkan sepak bola terbaik kita, berikan segalanya dengan sepenuh hati. Kepakan sayap Garuda masih bisa terbang tinggi menuju babak final — asalkan kita semua bergerak bersama, satu tujuan,” tegas Erick Thohir.
Mata jutaan rakyat Indonesia kini tertuju pada Kamis malam. Beban sekaligus kehormatan berada di pundak John Herdman dan dua puluh tiga pemain yang mengenakan seragam kebanggaan bangsa. Inilah momen untuk menjawab keraguan dengan aksi, mengubah cibiran menjadi sorak-sorai, dan membuktikan bahwa Tim Garuda masih memiliki taring untuk melangkah jauh.
Lapangan sudah menanti. Semangat tak boleh padam. Ayo Garuda! Tunjukkan bahwa kita layak berada di final!***







