Di balik Tren Pod: Eksistensi dan Validasi Sosial Remaja Perempuan
Sebuah kebiasaan yang kita pandang kecil terkadang menyembunyikan cerita yang lebih besar. Begitu pula dengan tren pod yang kini tidak hanya berbicara tentang gaya hidup,tetapi juga tentang cara remaja perempuan mencari eksistensi dan penerimaan sosial. Untuk
terlihat seolaah menjadi bagian penting dari kehidupan remaja. Kehadiran media sosial membuat banyak orang tidak hanya menjalani kehidupan sehari-hari, tetapi juga membangun citra tentang dirinya di hadapan publik. Apa yang digunakan, dikenakan, hingga kebiasaan
yang ditampilkan dapat menjadi cara seseorang menunjukkan identitas dan mencari pengakuan dari lingkungan sekitar.
Salah satu fenomena yang menarik perhatian saat ini adalah terjadinya peningkatan terhadap penggunaan pod atau rokok elektronik di kalangan remaja perempuan. Jika sebelumnya rokok lebih sering disandingkan dengan citra maskulin, kini pod tampil dengan wajah yang berbeda.Bentuknya yang kecil, desain yang beragam, serta debutnya dalam berbagai konten digital membuat pod perlahan dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern.
Namun, di balik tren tersebut terdapat persoalan yang lebih besar untuk dilihat. Penggunaan pod tidak hanya berkaitan dengan perangkat yang menghasilkan uap, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana sebagian remaja perempuan membangun eksistensi dirinya di
lingkungan sosial.
Bagi sebagian remaja, pod mungkin dianggap sebagai simbol keberanian, kedewasaan, atau cara untuk menunjukkan bahwa mereka mengikuti perkembangan zaman. Dalam lingkungan pertemanan tertentu, memiliki atau menggunakan pod dapat memberikan rasa diterima karena dianggap memiliki kesamaan dengan kelompok sosialnya. Pada titik ini, pod tidak lagi hanya menjadi sebuah barang, tetapi berubah menjadi simbol yang memiliki makna sosial.
Gelagat tersebut menunjukkan bahwa keputusan seseorang dalam menggunakan sesuatu terkadang tidak sepenuhnya berasal dari keinginan pribadi. Ada pengaruh lingkungan, tren, dan kebutuhan untuk mendapatkan validasi. Terlebih lagi, media sosial sering kali memperkuat pandangan bahwa sesuatu yang banyak digunakan atau mendapat perhatian publik adalah sesuatu yang menarik untuk diikuti.
Budaya validasi sosial menjadi salah satu tantangan besar bagi remaja saat ini. Banyak remaja tumbuh dalam lingkungan yang memberikan penghargaan melalui jumlah perhatian, komentar, dan penerimaan dari orang lain. Akibatnya, sebagian individu dapat merasa perlu menunjukkan
sisi tertentu dari dirinya agar dianggap menarik, mengikuti zaman, atau memiliki tempat dalam lingkungan sosialnya.
Bagi remaja perempuan, tekanan tersebut terkadang menjadi lebih kompleks. Mereka tidak hanya berhadapan dengan keinginan untuk diterima, tetapi juga dengan berbagai standar mengenai bagaimana mereka harus terlihat dan berperilaku. Dalam situasi tertentu, tren seperti
pod dapat menjadi salah satu cara untuk membangun citra diri yang dianggap lebih percaya diri, bebas, dan modis.
Meski demikian, persoalan ini tidak dapat dilihat hanya dari sudut pandang menyalahkan remaja. Setiap pilihan memiliki latar belakang sosial yang memengaruhinya. Oleh karena itu, pendekatan terhadap fenomena pod di kalangan remaja perempuan tidak cukup hanya dengan memberikan larangan, tetapi juga perlu membangun kesadaran kritis mengenai alasan seseorang mengambil keputusan.
Remaja perlu memahami bahwa eksistensi tidak harus dibuktikan melalui sesuatu yang sedang populer. Nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh barang yang digunakan atau tren yang diikuti, melainkan oleh kemampuan, karakter, dan cara seseorang memberikan pengaruh
positif bagi lingkungan sekitarnya.
Di sisi lain, keluarga, sekolah, dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang membuat remaja merasa dihargai tanpa harus mencari pengakuan melalui tren tertentu. Edukasi yang dilakukan bukan hanya mengenai risiko penggunaan pod, tetapi juga
mengenai bagaimana membangun kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.
Pada akhirnya, fenomena pod di kalangan remaja perempuan tidak hanya tentang sebuah benda kecil yang menghasilkan uap. Fenomena ini melukiskan bagaimana generasi muda berusaha menemukan tempatnya dalam dunia yang semakin dipengaruhi oleh tren dan
media sosial.
Di balik tren pod, terdapat cerita tentang pencarian identitas, kebutuhan untuk diterima, dan keinginan untuk dianggap ada. Karena pada akhirnya, eksistensi yang sebenarnya bukanlah tentang seberapa banyak seseorang mengikuti tren, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu mengenali dan menghargai dirinya sendiri.
Pod mungkin hanya meninggalkan uap dan dengan tenang menghilang, tetapi pencarian akan pengakuan meninggalkan pertanyaan yang lebih besar: apakah kita mengikuti tren karena pilihan, atau karena ingin diterima?
Di balik Tren Pod: Eksistensi dan Validasi Sosial Remaja Perempuan
Oleh: Aina Salsabila (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman)
Instagram: @ainaell_
Fakultas: Hukum
Program Studi: Ilmu Hukum
Universitas: Universitas Mulawarman



