Reuni Kecil Para Lulusan Mesin Umum 2 STM Pangeran Antasari di Kintamani V

Kaltimku.id — Langit Balikpapan, Kalimantan Timur yang tenang pada Kamis, 26 Maret 2026, dan waktu seolah melambat di selasar rumah Samhari. Di Komplek Balikpapan Regency, tepatnya di Kintamani V, Sepinggan, sisa-sisa kejayaan masa muda para alumni STM Pangeran Antasari kembali berpijar.

​Samhari, yang kini menikmati masa tenang setelah bertahun-tahun bergelut dengan debu hitam di PT Kaltim Prima Coal, membuka pintunya lebar-lebar. Pertemuan ini adalah sekuel dari tawa yang sebelumnya sempat pecah di kediaman Sutrisno di Karang Jawa. Sebuah rantai persaudaraan yang menolak putus oleh jarak maupun usia.

Bacaan Lainnya

​Deru mesin dan jejak langkah. Reuni ini bukan sekadar tatap muka, melainkan sebuah perjalanan fisik dan batin:

​Ngatimin, sang kakak kelas, membuktikan bahwa semangat tak kenal luruh. Ia dibonceng Syahrani yang memacu sepeda motornya menembus jalanan dari Samboja, Kutai Kartanegara, hanya demi merajut kembali kisah lama bersama Sajio, Sudarno, Samhari dan lainnya.

​Sudarno datang membawa cerita dari hiruk-pikuk ibu kota bersama istri dan anak keduanya. Ia hadir dengan sisa tenaga sebagai praktisi maintenance pabrik pipa di Jakarta yang masih aktif hingga kini.

​Normansyah hadir dengan ketabahan luar biasa. Meski raga teruji oleh serangan stroke dalam beberapa tahun terakhir, sorot matanya tetap memancarkan api persahabatan yang sama. Herry Trunajaya pun turut melengkapi lingkaran kecil itu dengan membonceng Normansyah ke rumah Samhari.

​Meski demikian, ada rindu yang tertahan untuk mereka yang tak sempat sampai. Suwarno alias Gadis terhalang senja usia di Samboja, sementara Yunani mengirimkan salam jauh dari Magetan. Namun, meski hidup memencar bagai anak panah yang lepas dari busurnya, hati kami tetap tertambat pada satu titik yang sama.

​Di sela tawa yang mengalir, ada saat-saat hening ketika nama-nama lama disebut. Di antara kepul aroma hidangan dan cerita sukses maupun gagal, doa-doa terpanjatkan untuk mereka yang telah mendahului.

​”Kami berdiri di atas pundak para raksasa yang kini telah beristirahat.”

​Kenangan berhembus pada sosok Pak Sudirdjo, Pasaribu, Ibu Manirah dari tata usaha, serta sang nahkoda sekolah, Kepsek Imam Mundjiat. Tak lupa bayang-bayang ketegasan Mahmudsyah dengan Ilmu Gaya-nya, Munawar, Wagiyo, hingga derap langkah guru olahraga seperti Syarifuddin dan Ngasiman.

​Di rumah Samhari hari itu, mereka bukan lagi pensiunan, pekerja, atau kakek-kakek yang menua. Mereka kembali menjadi remaja-remaja STM Pangeran Antasari—yang meski rambut telah memutih gigi ompong, semangatnya tetap sekeras baja dan setegar karang.

​Tak ada pesta yang tak berakhir, Sudarno yang akan kembali ke Jakarta pada Jumat malam, 27 Maret 2026 berpamitan bersama Sajio yang saat ini hidup dengan putra tunggalnya, tak jauh dari Komplek Balikpapan Regency.

Malam terus merangkak,  reuni kecil pun berlalu. Namun ikatan persaudaraan akan tetap terpatri di lubuk hati masing-masing. Waktu memang tak bisa ditarik kembali dan akan terus berlari menuju titik nadir.***

Pos terkait