Kaltimku.id — Ketika ufuk barat perlahan memudar dan menyisakan rona jingga yang memantul di kaca-kaca Whiz Prime Hotel, Jalan Sudirman, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) sebuah simpul persaudaraan perlahan dirajut. Sabtu, 7 Maret 2026, tak sekadar menjadi penanda waktu pada lembar penanggalan, melainkan saksi bisu perjumpaan yang hangat antara PT Kideco Jaya Agung (KJA) dan para penjaga gawang informasi di tanah Kalimantan Timur.
Di bawah temaram lampu dan aroma hidangan berbuka yang perlahan menguar, sekat-sekat formalitas meluruh. Hadir dalam lingkar kekeluargaan tersebut para pewarta yang bernaung di bawah panji PWI Balikpapan yang diketuai oleh Debi Aditya, IJTI, AJI, AMSI, hingga SMSI. Meja-meja tak lagi menjadi pembatas, melainkan ruang perjumpaan tempat wacana dan derai tawa berpadu. Berbuka puasa hari itu bukan sekadar menuntaskan dahaga raga, melainkan membasuh dahaga akan kebersamaan yang hakiki antara sebuah korporasi dan insan media.
Di tengah kehangatan yang mengalun, Wicaksono WS, Legal and Corporate Affairs Deputy Director PT Kideco Jaya Agung, berdiri memecah suasana dengan sapaan bersahaja. Kata-katanya mengalir, bukan sebagai retorika bisnis, melainkan sebentuk ajakan yang tulus.
”Acara ini membangun komunikasi terbuka dengan silaturahmi. Sekaligus buka bersama ini merupakan salah satu wadah bagi kita untuk dapat berinteraksi satu sama lain,” tuturnya. Suaranya membawa pesan tentang pentingnya merawat harmoni, mengisyaratkan bahwa Kideco dan media bukanlah dua kutub yang berseberangan, melainkan dua kawan seiring yang saling menyeimbangkan dalam cuaca apa pun.
Wicaksono amat mahfum, di era di mana waktu berlari lebih cepat dari kedipan mata dan informasi bertiup sederas badai digital, sinergi yang sehat adalah jangkar. Ia melontarkan sebuah perumpamaan, sebuah renungan di tengah gempita zaman yang serba gegap gempita.
”Kalau dulu ada pepatah: mulutmu harimaumu, sekarang mungkin jempolmu harimaumu,” ucapnya lugas.
Ruangan sejenak meresapi makna, sebelum akhirnya pecah oleh tepuk tangan yang mengamini kebenaran sederhana tersebut. Kutipan itu menjadi sebuah pengingat yang elegan; bahwa di ujung jari yang menari di atas layar, tersimpan kuasa yang mampu merawat kedamaian atau justru memicu riuh rendahnya dunia. Oleh karenanya, kebijaksanaan adalah lentera yang harus terus dijaga.
Harapan pun disemai oleh Wicaksono, agar perjumpaan semacam ini tak layu seiring bergantinya musim, melainkan mekar menjadi tradisi tahunan yang terus menyirami relasi. Gayung pun bersambut manis. Sumarsono, mewakili PWI Balikpapan dan rekan-rekan pewarta lainnya, melabuhkan apresiasi yang mendalam atas niat baik tersebut.
Malam itu, perjamuan berbuka memang harus berakhir, namun kehangatannya tertinggal di udara. Sebuah babak manis telah dicatatkan, bahwa antara jejak langkah korporasi dan tajamnya mata pena jurnalis, selalu ada ruang yang lapang untuk duduk bersama, merawat harmoni demi kejernihan informasi di tapal batas Kalimantan Timur.***







