Balikpapan, Kaltimku.id — Dalam rangka memperingati Bulan K3 Nasional (BK3N), PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) berkolaborasi dengan Universitas Balikpapan menyelenggarakan Sosialisasi HIV dan Tuberkulosis (TB) bertema “Zero Stigma, Zero Penularan” di Auditorium Putri Aji Karang Melenu, Balikpapan (14/02). Kegiatan ini diikuti mahasiswa, pelajar, dan sivitas akademika sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran kesehatan di kalangan usia produktif.
Kegiatan ini dilatarbelakangi fakta bahwa HIV dan TB masih menjadi tantangan kesehatan serius, termasuk di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI mencatat Indonesia termasuk negara dengan beban kasus TB tertinggi di dunia, dengan estimasi lebih dari satu juta kasus pada tahun 2025 lalu.
Bagi kota industri seperti Balikpapan, isu ini tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan individu, tetapi juga produktivitas, ketahanan sosial, dan kualitas sumber daya manusia. Minimnya pemahaman serta masih adanya stigma berpotensi menghambat deteksi dini dan pengobatan, yang pada akhirnya memperbesar risiko penularan.
Vice President Legal & Relation PT KPB, Asep Sulaeman, menegaskan bahwa edukasi kesehatan merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan pembangunan daerah. “Kota Balikpapan ditopang oleh usia produktif yang menjadi penggerak industri dan pembangunan. Jika generasi mudanya tidak terlindungi dari risiko penyakit menular atau masih terjebak stigma, maka yang terancam bukan hanya kesehatan individu, tetapi masa depan produktivitas kota ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa melalui pendekatan edukatif, perusahaan ingin membangun kesadaran sekaligus empati.
“Kami ingin generasi muda memahami cara penularan, pencegahan, serta pentingnya deteksi dini HIV dan TB. Namun lebih dari itu, kami ingin menumbuhkan keberanian untuk tidak memberi stigma. Zero stigma adalah langkah awal menuju zero penularan,” tegasnya.
Materi sosialisasi disampaikan oleh dr. Dewa Donny Lesmana dari Dinas Kesehatan Kota Balikpapan. Ia menekankan bahwa keterbukaan informasi dan pemeriksaan dini menjadi kunci memutus rantai penularan. Menurutnya, kolaborasi antara dunia industri, institusi pendidikan, dan pemerintah menjadi faktor penting dalam memperluas literasi kesehatan, terutama pada kelompok usia muda.
“Kami terus mendorong kolaborasi dengan institusi pendidikan dan pemangku kepentingan agar upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular dapat dilakukan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Antusiasme peserta terlihat dari diskusi interaktif yang berlangsung selama kegiatan. Salah satu peserta, Endin Heratiansyah dari SMA Negeri 8 Balikpapan, mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai cara penularan dan pencegahan HIV dan menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Kami sebagai pelajar mendapatkan edukasi langsung dari tenaga kesehatan mengenai apa itu HIV/AIDS dan bagaimana cara pencegahannya. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan di Balikpapan agar semakin banyak masyarakat yang memahami bahaya HIV/AIDS dan pentingnya pencegahan sejak dini,” ujarnya.
Melalui sinergi ini, KPB menegaskan bahwa investasi pada kesehatan generasi produktif merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan pembangunan kota. Edukasi, deteksi dini, serta penghapusan stigma menjadi fondasi penting agar Balikpapan tetap tumbuh sebagai kota industri yang sehat, inklusif, dan berdaya saing.***








