Batik Tulis Kubar Didorong Jadi Identitas Baru dan Sumber Ekonomi

Batik Tulis Kubar Didorong Jadi Identitas Baru dan Sumber Ekonomi

Ringkasan Berita:

  • Dekranasda Kubar menggelar pelatihan untuk menciptakan batik tulis khas daerah yang bernilai jual.
  • Pemkab Kubar berharap batik ini menjadi identitas baru sekaligus sumber ekonomi bagi masyarakat.
  • Pelatihan menekankan pentingnya batik tulis sebagai warisan budaya yang diakui UNESCO, berbeda dari batik printing.

SENDAWAR — Kaltimku.id — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutai Barat (Kubar) berupaya agar pelatihan membatik tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Melalui “Pelatihan Membatik Motif Khas Kubar 2026”, para peserta didorong untuk melahirkan batik tulis berciri khas daerah yang punya nilai jual dan menjadi identitas baru bagi Bumi Tanaa Purai Ngeriman.

Saat membuka pelatihan di Sekretariat Dekranasda Kubar, Rabu (12/8/2026), Bupati Kubar Frederick Edwin melalui Asisten 2 Ali Sadikin menegaskan bahwa kekayaan budaya lokal layak diangkat menjadi motif batik. Ia ingin keterampilan ini menjadi usaha produktif yang bisa menopang ekonomi masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Pelatihan ini bukan hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga membekali pelaku IKM, UMKM, perajin, dan generasi muda agar mampu menghasilkan karya yang memiliki ciri khas daerah serta bernilai ekonomi,” ujar Ali Sadikin. Ia juga menyampaikan pesan bupati agar para perajin memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk memperluas pemasaran.

Ketua Dekranasda Kubar, Maria Christina Frederick Edwin, mengingatkan pentingnya membedakan batik tulis dengan produk tekstil bermotif batik atau yang lebih dikenal sebagai batik printing. Menurutnya, pemahaman ini penting untuk menjaga nilai warisan budaya yang sesungguhnya.

”UNESCO mengakui batik sebagai teknik perintangan warna menggunakan lilin panas. Karena itu, pelatihan batik tulis merupakan bagian penting dari upaya melestarikan warisan budaya bangsa,” tegasnya.

Maria optimistis batik tulis Kubar mampu menjadi produk unggulan jika dikembangkan secara serius. Motifnya bisa terinspirasi dari keindahan alam, kekayaan sumber daya, hingga seni budaya berbagai etnis yang ada di Kubar. Dengan begitu, eksotisme daerah bisa lebih dikenal luas.

”Kami ingin masyarakat bangga mengenakan batik tulis Kubar karena memiliki nilai seni sekaligus nilai jual yang tinggi,” kata Maria.

Ia juga menekankan bahwa pelatihan harus diikuti dengan strategi pemasaran yang matang. Dekranasda diharapkan dapat membangun jejaring promosi bersama para pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutan produksi dan memperluas akses pasar.

”Kalau produksinya berkelanjutan dan pemasarannya kuat, batik tulis Kubar bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat,” pungkasnya. (ADV/Diskominfo Kubar)

Pos terkait