Ringkasan Berita:
- Jalan tanah yang rusak saat hujan membuat hasil perikanan warga Muara Beloan sering terbuang sia-sia.
- Pemkab Kutai Barat akan membangun jalan beton menuju Muara Beloan dengan skema multi-tahun dari 2027 hingga 2029.
- Proyek ini diharapkan membuka isolasi dan memperlancar distribusi ekonomi, dengan lelang dimulai akhir 2026.
SENDAWAR — Kaltimku.id — Hasil panen ikan warga Kampung Muara Beloan di Kutai Barat sering kali terbuang sia-sia karena sulit diangkut ke pasar. Kondisi ini terjadi setiap kali hujan turun dan mengubah satu-satunya akses jalan tanah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilalui.
Menjawab persoalan ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) berencana membangun jalan beton menuju Muara Beloan. Proyek ini akan dikerjakan dengan skema tahun jamak (multiyears) yang berlangsung dari 2027 hingga 2029. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kubar, Pilip, menjelaskan bahwa proses lelang proyek ditargetkan sudah bisa dimulai pada akhir 2026.
“Pembangunan akan dilaksanakan secara multiyears mulai 2027 hingga 2029,” kata Pilip saat ditemui di kantornya, Senin (3/8/2026).
Menurut Pilip, pengerjaan jalan beton ini akan dilakukan secara bertahap. Ruas pertama yang akan dibangun adalah dari Kecamatan Melak hingga Pos Kilometer 6 PT Teguh Sinar Abadi (TSA). Setelah itu, pembangunan berlanjut dari Pos Kilometer 4 PT Manaar Bulatn Lestari (MBL) sampai ke Kampung Muara Beloan.
Selain pengecoran jalan, proyek ini juga mencakup pembuatan gorong-gorong dan penyesuaian ketinggian di beberapa titik jalan yang rendah. Langkah ini diambil untuk mengatasi genangan air yang selama ini menjadi kendala utama saat musim hujan.
“Kami berharap pekerjaan dapat berjalan lancar dan tidak terkendala banjir,” ujar Pilip.
Rencana pembangunan ini disambut baik oleh Kepala Kampung Muara Beloan, Rudy Suhartono. Ia menyebut peningkatan akses jalan merupakan kebutuhan mendesak, sebab kondisi jalan tanah saat ini sering membuat warganya terisolasi.
Masalah akses ini tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga memukul ekonomi masyarakat, terutama para nelayan dan pembudidaya ikan.
“Banyak hasil perikanan yang dipanen menjadi sia-sia karena tidak bisa dijual ke Melak akibat akses jalannya rusak,” ungkap Rudy.
Dengan adanya jalan beton, diharapkan distribusi hasil perikanan menjadi lancar dan roda perekonomian masyarakat Muara Beloan bisa bergerak lebih cepat. Proyek yang dijadwalkan selesai pada 2029 ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi konektivitas di sentra penghasil ikan air tawar terbesar di Kutai Barat tersebut. (ADV/Diskominfo Kubar)







