Kaltimku.id — SIANG itu matahari terasa sangat menyengat. Cahayanya menghunjam aspal, memantul panas yang sanggup membuat udara bergetar di atas permukaan jalan. Di tengah riuh rendah deru mesin kendaraan, dua bayangan kecil itu melangkah. Mereka tidak sedang bermain kejar-kejaran, tidak pula sedang berangkat menuju gerbang sekolah.
Di bahu mereka, tersampir karung goni yang ukurannya tampak terlalu besar—mungkin lebih berat dari cita-cita yang belum sempat mereka rangkai.
Setiap kali botol plastik bekas tergeletak di selokan atau di sudut trotoar, tangan-tangan mungil itu bergerak dengan gesit. Bukan karena mereka ingin bermain, melainkan karena setiap plastik adalah kepingan rupiah yang mereka harapkan bisa ditukarkan kepada pengepul sebelum senja turun. Mereka adalah pemulung cilik, penyintas jalanan yang masa kecilnya terampas oleh tuntutan perut yang lebih mendesak daripada buku tulis dan seragam sekolah.
Di tempat lain, di kawasan Ringroad, sang ayah sedang bergelut dengan debu dan knalpot, mengatur deretan motor yang tak henti datang. Ia adalah juru parkir, seorang prajurit jalanan yang menukarkan tenaganya demi recehan yang seringkali hanya cukup untuk makan hari ini. Sementara itu, sang ibu—dengan sapu lidi di tangan—berjuang membersihkan taman-taman kota. Ibu yang merapikan dedaunan di tempat orang lain berekreasi, namun seringkali tak sempat melihat anaknya bermain di taman yang sama.
Kota ini memang kondang sebagai yang teraman dan terindah, juga dengan label sebagai “Kota Layak Anak”. Sebuah label kebanggaan yang terpampang rapi di papan-papan pengumuman pemerintah. Namun, ironi itu nyata, terpampang jelas di setiap persimpangan lampu merah. Di sana, di antara deretan mobil mewah dan motor yang berdesakan menunggu lampu berubah hijau, anak-anak lain berdiri menenteng bungkusan tisu dan makanan ringan yang ditawarkan kepada para pengendara.
Mereka—dua bocah dengan karung di bahu dan teman-teman mereka di lampu merah—adalah pengingat bahwa sebuah kota bukanlah sekadar beton, taman, dan trotoar yang rapi. Kota adalah tentang bagaimana ia memperlakukan jiwa-jiwa paling kecil yang menghuninya.
Ketika lampu lalu lintas berganti warna, deru kendaraan kembali memekakkan telinga. Dua bocah itu kembali melangkah. Karung di bahu mereka semakin berat, namun langkah mereka tetap tertatih, menyusuri jalanan yang mungkin tak pernah menjanjikan mereka masa depan, namun terus menuntut mereka untuk tetap bertahan hidup hari demi hari.
Begitu pun sang kakak dari kedua bocah tersebut yang selalu mengenakan baju gamis bertindak sebagai Pak Ogah di simpang-simpang jalan kota yang lalu lintasnya cukup sibuk, namun tak diatur oleh pihak terkait.
Di balik megahnya pembangunan dan nyamannya fasilitas kota, ada cerita-cerita yang luput dari pandangan. Cerita tentang masa kecil yang ditukar dengan plastik bekas, dan mimpi yang terpaksa dikubur dalam-dalam di bawah aspal panas Balikpapan.***







