Pemancing Pinggiran dan Deru Mesin yang Menggeser Dayung

Ikan kakap putih yang didapat pemancing pinggiran di Sungai Manggar beberapa tahun silam

SUNGAI MANGGAR, Balikpapan yang bermuara luas menuju Selat Makassar kini tak lagi sama. Alur airnya terasa kian menyempit, bukan saja karena pendangkalan alami, melainkan oleh padatnya urat nadi aktivitas modernisasi perikanan.

​Dahulu, harmoni malam di sungai ini dijaga oleh kesunyian para nelayan bagan. Mereka mengandalkan kayuhan dayung, menerobos alun ombak senja hari demi menjemput rezeki di bagan tancap (bagan tajam) tradisional, lalu pulang saat fajar menyingsing dengan sisa tenaga yang diperas habis.

Bacaan Lainnya

Kini, zaman telah berputar. Deru mesin perahu bersahut-sahutan membelah kesunyian. Bagan-bagan kayu yang statis telah digantikan oleh kuasanya bagan kapal modern—raksasa terapung yang bebas berpindah haluan, mengejar ke mana pun kawanan ikan pergi tanpa batas ruang.

Anak anak berebut ikan dari nelayan bagan

​Pagar-Pagar Pembatas di Teras Sungai

​Di sudut lain, ada detak kehidupan yang lebih sunyi: para pemancing pinggiran. Bagi mereka, joran dan seutas senar bukan sekadar alat pemburu rupiah, melainkan pelarian dari penatnya keseharian, sebuah hobi, atau ruang kontemplasi di kala senja.

​Namun, ruang itu kini perlahan mengkerut. Tepian sungai yang dulunya terbuka, kini telah berbaris dinding-dinding rumah megah dan pabrik batu es milik para saudagar nelayan dan kalangan berpunya. Akses yang dulunya bebas kini disekat oleh rasa curiga dan privasi. Teras-teras belakang rumah yang menghadap ke sungai—tempat ideal memarkir langkah kaki sambil melempar umpan—kian tertutup rapat. Izin tak lagi mudah didapat; para pemancing pinggiran pun benar-benar terpinggirkan dari tanah pijakannya sendiri.

​Sunyinya Ujung Kail

​Modernisasi dan padatnya lalu lintas sungai membawa dampak nyata ke dalam air. Jenis-jenis ikan primadona yang dulunya akrab dengan mata kail dari tepian, kini kian enggan mendekat.

​Kakap Putih (Barramundi) dan Kakap Merah yang gemar bersembunyi di struktur tepi sungai kini kian menjauh.

​Kerapu, Terkulu (Giant Trevally), dan ikan Tompel (Tanda-tanda) semakin langka mendatangi umpan pinggiran. Riuh mesin kapal dan masifnya tangkapan bagan modern membuat ekosistem pinggiran sungai tak lagi menjadi tempat bermain yang tenang bagi ikan-ikan tersebut.

​Asa di Sisa Tepian

​Meski keadaan kian menjepit, gairah di ujung joran tidak pernah benar-benar padam. Di antara deretan dinding tinggi, selalu ada satu atau dua sudut rumah warga yang pemiliknya masih membuka pintu dengan keramahan lama.

​Di sanalah, di atas sisa-sisa sekeping papan tepian sungai yang diizinkan, para pemancing pinggiran berdiri. Menatap riak air Sungai Manggar yang mulai berganti rupa, melemparkan kail menjauh ke tengah, dan tetap setia merawat harapan: bahwa di bawah sana, masih ada satu kibasan ekor ikan yang sudi menyambar umpan mereka.***

 

 

Pos terkait