Strategi IKN Wujudkan Pusat Alih Teknologi Udara Mandiri

gambar: Ilustrasi
gambar: Ilustrasi

Ibu Kota Nusantara (IKN) memiliki visi besar, melampaui sekadar pembangunan fisik, yakni menjadi pusat terdepan dalam proses alih teknologi IKN di sektor transportasi udara. Ambisi ini bertujuan mengubah Indonesia dari sekadar pasar menjadi produsen inovatif yang mandiri. Mohammed Ali Berawi, Chief of Research and Innovation of CLGI Asia-Pacific dan mantan Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN, menekankan urgensi Indonesia menjadi ‘prosumer’ – produsen sekaligus konsumen – demi kemajuan di tahun 2045.

Pendekatan strategis ini diwujudkan melalui berbagai Proof of Concept (POC) yang melibatkan perusahaan teknologi global. Model POC ini memfasilitasi transfer pengetahuan langsung; misalnya, Hyundai telah mengirimkan unit taksi terbang dari Korea Selatan untuk demonstrasi di IKN. Seluruh biaya POC ini ditanggung sepenuhnya oleh penyedia teknologi, tanpa membebani anggaran negara. Pemerintah hanya menyediakan fasilitas dan lokasi uji coba, memungkinkan insinyur nasional berinteraksi langsung dengan teknologi canggih, mempelajari aspek teknis, serta terlibat dalam proses spesifikasi dan pengembangan sistem. Ini krusial bagi keberhasilan alih teknologi IKN.

Bacaan Lainnya

Berawi menegaskan IKN bukan tempat bagi model bisnis yang hanya menjadikan Indonesia agen atau broker teknologi. Sebaliknya, kawasan ini didesain sebagai technology knowledge hub, ekosistem kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan penyedia teknologi global. Tujuannya adalah mendorong lahirnya pusat-pusat keunggulan di bidang transportasi masa depan, mempercepat kemandirian teknologi nasional. Penguasaan teknologi, menurut Berawi, harus mencakup kemampuan memproduksi perangkat keras, bukan hanya interoperabilitas perangkat lunak. Tanpa kapabilitas ini, kendali teknologi esensial akan tetap di tangan produsen asing, menghambat terwujudnya alih teknologi IKN yang sejati.

Meskipun antusiasme terhadap taksi terbang (Urban Air Mobility/UAM) sangat besar dan uji coba teknis berjalan mulus, implementasinya untuk jangka pendek dan menengah belum menjadi prioritas. Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menegaskan kebijakan transportasi harus berdasarkan kebutuhan riil. Dengan populasi IKN saat ini yang mayoritas masih pekerja konstruksi, kelayakan ekonomi taksi terbang belum terjamin. Prioritas utama beralih pada penyelesaian infrastruktur dasar seperti jalan, air, listrik, dan kantor pemerintahan, serta penyediaan kendaraan listrik darat (EV Bus) sebagai solusi mobilitas mendesak dan efisien.

Penundaan ini menunjukkan pendekatan pragmatis Otorita IKN. Teknologi otonom, seperti taksi terbang dan Kereta Otonom Tanpa Rel (ART) yang sempat diuji coba, masih memerlukan intervensi manual, mengindikasikan sistem belum sepenuhnya matang. Otorita IKN memproyeksikan penerapan moda transportasi masa depan yang benar-benar efisien dan andal baru pada fase 2040 hingga 2045. Dengan demikian, fokus saat ini adalah meletakkan fondasi kuat, sambil terus mempersiapkan diri untuk masa depan di mana alih teknologi IKN dan inovasi transportasi udara akan sepenuhnya terintegrasi dalam visi smart forest city.

Pos terkait