Kaltimku.id — ANGIN sepoi-sepoi berembus pelan di Tanjung Harapan, Kuala Samboja, membawa aroma tanah yang masih basah dari curah hujan dan desir daun kelapa yang beradu dengan cakrawala Kutai Kartanegara. Di sebuah lahan seluas 31×60 meter, rumah bernuansa krem berdiri dengan anggun, menjadi saksi bisu pertemuan yang telah dinanti selama puluhan tahun.
Rumah itu milik Syahrani. Di usia senja yang tenang, ia dan sang istri menghuni kediaman itu berdua saja, karena anak-anak mereka telah melangkah jauh, meniti jalan hidup masing-masing. Namun, kesunyian itu hari ini pecah oleh tawa dan percakapan akrab.
Sebuah mobil putih merayap masuk ke halaman, menuntaskan perjalanan panjang dari Balikpapan. Di dalamnya, Haji Samhari memegang stir—yang bersama istrinya menikmati masa purna bakti dari perusahaan tambang KPC Sangatta—memimpin rombongan. Bersama mereka, Sutrisno dan Herry, masing-masing dengan istri di sampingnya, datang membawa kerinduan yang karib.
Mereka bukanlah sekadar kolega, melainkan kawan seperjuangan. Empat dekade lebih telah berlalu sejak mereka menanggalkan seragam STM Pangeran Antasari Balikpapan pada tahun 1982. Di kelas Mesin Umum 2 itulah, ikatan persaudaraan mereka ditempa, kokoh tak lekang oleh karat waktu.
Di ruang tamu yang lapang itu, nama-nama kawan yang tak hadir turut disebut dengan nada yang teduh. Ada sedikit celah di hati mereka saat mengingat Sajio, yang sejak tahun 2025 lalu harus menempuh hari-harinya bersama putra tunggalnya setelah sang istri dipanggil Tuhan Yang Maha Esa. Kehadiran mereka hari ini seolah menjadi pelipur lara bagi kerinduan yang tersisa. Begitu pula Legimin yang terpaku pada tanggung jawab di rumah anaknya, Yunani yang menetap di Magetan, dan Sudarno yang sedang di Jakarta—meski fisik terpisah, batin mereka tetap berpaut dalam frekuensi persahabatan yang sama.
Syahrani, sang tuan rumah, menyambut dengan binar kebahagiaan. Di depan rumahnya yang asri, ratusan pohon kelapa berdiri tegak sebagai komoditas yang ia panen setiap dua puluh hari sekali. Sesekali, suara ayam di sudut lahan menambah orkestra kehidupan kampung yang damai.
Siang Ahad, 3 Mei 2026, meja makan menjadi panggung kesederhanaan. Santap siang dihidangkan dengan kehangatan, ditemani air kelapa murni yang dingin dan piring-piring berisi kue tradisional serta singkong goreng yang hangat lengkap dengan sambalnya. Di teras, mereka bercengkerama—mengingat masa muda di bengkel sekolah, membahas dinamika hidup yang telah dilalui, hingga merayakan detik-detik kebersamaan yang tersisa.
Petualangan kecil pun tak luput dari rencana. Syahrani, dengan semangat yang tak kalah dengan masa mudanya, membonceng istri tercinta memimpin rombongan menuju pesisir. Mereka meluncur ke Pantai Tanah Merah, sebuah destinasi yang mempesona, di mana riak ombak dan jajaran pohon cemara seolah berbisik menyambut jiwa-jiwa tua yang masih menyimpan semangat muda.
Di bawah langit senja Samboja yang menawan, persahabatan mereka membuktikan satu hal: bahwa bagi mereka yang pernah duduk di kelas yang sama, waktu hanyalah angka. Yang abadi adalah jalinan kasih yang dirajut dari masa lalu, yang kini mereka jaga dengan penuh syukur di hari tua.***








