Guru SMA hingga SLB se-Kaltim Belajar Membuat Media Interaktif dengan AI

Guru SMA hingga SLB se-Kaltim Belajar Membuat Media Interaktif dengan AI

Guru SMA, SMK, dan SLB dari sekolah negeri maupun swasta di Kalimantan Timur mendapat pelatihan untuk membuat media pembelajaran digital yang lebih interaktif. Dalam bimbingan teknis yang digelar online pada Kamis (30/7/2026), mereka belajar memanfaatkan Canva Education, termasuk fitur kecerdasan buatan (AI), permainan edukatif, dan website pembelajaran.

Kegiatan yang diinisiasi UPTD Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Tekkom dan Infodik) Disdikbud Kaltim ini menghadirkan Chairunnisa, S.Pd., M.Akun., Gr., sebagai narasumber. Guru SMKN 3 Balikpapan tersebut juga merupakan Duta Canva Indonesia. Acara dibuka oleh Kepala UPTD Tekkom dan Infodik Kaltim, Sulaiman, yang mewakili Plt Kepala Disdikbud Kaltim.

Bacaan Lainnya

Bukan Sekadar Presentasi Biasa

Selama ini, Canva populer digunakan untuk membuat slide presentasi, poster, dan infografis. Namun, dalam pelatihan ini, guru diajak untuk memanfaatkannya lebih jauh, seperti menyusun lembar kerja, video penjelasan, kuis, hingga bahan ajar yang bisa diakses melalui website sederhana.

Media yang lebih variatif ini memberi guru banyak pilihan untuk menjelaskan materi. Konsep yang rumit bisa diubah menjadi gambar, diagram, atau animasi yang lebih mudah dipahami siswa. Fitur AI seperti Magic Write juga dapat membantu guru mencari gagasan kegiatan, membuat draf teks, hingga merancang presentasi awal.

Kemudahan ini diharapkan dapat mengurangi waktu guru untuk pekerjaan desain dasar, sehingga mereka bisa lebih fokus pada kualitas isi materi dan pendampingan siswa. Meski begitu, peserta diingatkan bahwa desain yang menarik belum tentu efektif. Penggunaan animasi, warna, dan suara yang berlebihan justru bisa mengalihkan perhatian siswa dari materi utama.

Sesuaikan Media dengan Kebutuhan Siswa

Setiap jenjang pendidikan memiliki kebutuhan yang berbeda. Materi untuk siswa SMA mungkin lebih fokus pada konsep dan analisis, sedangkan siswa SMK bisa jadi lebih butuh simulasi pekerjaan atau panduan prosedur.

Tantangan lain ada di Sekolah Luar Biasa (SLB), di mana media perlu disesuaikan dengan kemampuan dan hambatan peserta didik. Ukuran teks, kontras warna, penggunaan suara, hingga kecepatan animasi sangat memengaruhi kemudahan siswa dalam belajar. Canva sendiri menyediakan fitur untuk menambahkan caption pada video dan memeriksa beberapa unsur aksesibilitas, tetapi guru tetap harus mengujinya langsung.

Media interaktif pun tidak harus selalu rumit. Permainan sederhana seperti mencocokkan gambar atau mengurutkan langkah sudah bisa sangat membantu. Guru juga perlu mempertimbangkan akses internet siswa. Jika banyak siswa berada di wilayah dengan jaringan terbatas, sebaiknya sediakan versi materi yang lebih ringan atau bisa digunakan secara offline.

Konten Buatan AI Wajib Diverifikasi Guru

Salah satu penekanan penting dalam pelatihan adalah tanggung jawab guru saat menggunakan AI. Fitur AI memang bisa menghasilkan materi dengan cepat, tetapi jawabannya tidak selalu akurat. Sistem bisa saja membuat penjelasan yang keliru, mencampuradukkan fakta, atau menampilkan gambar yang tidak sesuai konteks.

Oleh karena itu, setiap teks, soal, dan contoh yang dibuat dengan AI wajib diperiksa ulang oleh guru. Guru tetap menjadi penanggung jawab utama untuk memastikan materi sesuai kurikulum, usia siswa, dan sumber yang tepercaya.

Pedoman nasional juga menekankan bahwa pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan harus etis, aman, dan bijak. Guru diimbau untuk tidak memasukkan data pribadi siswa—seperti nama lengkap, nilai, atau kondisi kesehatan—ke dalam aplikasi AI.

Dampak Nyata Ada di Ruang Kelas

Bimbingan teknis memang bisa menambah pengetahuan, tetapi hasilnya baru terlihat saat diterapkan di kelas. Peserta didorong untuk mencoba membuat satu produk sederhana setelah pelatihan, lalu melihat langsung respons siswa.

Dari sana, guru bisa mengevaluasi apakah siswa lebih mudah paham, lebih aktif, atau justru kesulitan. Produk yang berhasil juga dapat dibagikan ke komunitas belajar agar bisa diadaptasi oleh guru lain tanpa harus membuat dari nol.

Setelah mengenal berbagai fitur canggih, tantangan guru selanjutnya adalah memilih teknologi yang benar-benar dibutuhkan. Satu media sederhana yang efektif di kelas jauh lebih berguna daripada banyak desain menarik yang akhirnya tidak terpakai.

Pos terkait