Sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura kini dapat dijelajahi melalui pameran virtual yang dibuka untuk masyarakat umum. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kutai Kartanegara menghadirkan dokumen, foto, silsilah kepemimpinan, serta berbagai arsip perjalanan kesultanan dalam format digital.
Pameran tersebut dapat diakses secara gratis melalui portal Jaringan Informasi Kearsipan Nasional atau JIKN. Pengunjung tidak perlu datang langsung ke ruang pamer maupun tempat penyimpanan arsip karena materi dapat dibuka menggunakan perangkat yang terhubung ke internet.
Materi yang ditampilkan berasal dari arsip sejarah yang mendokumentasikan perkembangan pemerintahan, kehidupan sosial budaya, adat istiadat, silsilah pemimpin, dan sejumlah peristiwa penting. Penyajian secara digital membuat pengunjung dapat mengikuti perjalanan kesultanan melalui sumber dokumenter, bukan hanya uraian sejarah singkat.
Menelusuri perjalanan kesultanan melalui arsip
Pameran virtual seri pertama membawa pengunjung menelusuri perjalanan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sejak masa awal kerajaan. Diarpus Kukar menyebut pembahasannya dimulai dari pemerintahan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti sekitar tahun 1300–1325.
Perjalanan tersebut berlanjut hingga perkembangan kesultanan pada masa Sultan Aji Muhammad Arifin yang disebut sebagai Sultan Kutai ke-21. Rentang sejarah yang panjang itu ditampilkan melalui kombinasi dokumen, foto, informasi kepemimpinan, dan arsip lain yang telah dihimpun.
Keberadaan arsip membantu masyarakat melihat perubahan yang berlangsung dari satu periode ke periode berikutnya. Dokumen pemerintahan dapat menjelaskan kebijakan dan hubungan kelembagaan, sedangkan foto serta catatan kegiatan memperlihatkan kehidupan sosial dan budaya pada masanya.
Silsilah kepemimpinan juga membantu pengunjung memahami hubungan antara tokoh yang muncul dalam perjalanan kesultanan. Informasi tersebut penting karena nama, gelar, dan pergantian pemimpin kerap tersebar dalam berbagai catatan yang tidak selalu mudah ditemukan oleh masyarakat umum.
Seri kedua memberikan perhatian lebih besar terhadap warisan budaya dan identitas daerah. Materinya mencakup perkembangan pemerintahan, kehidupan masyarakat, adat istiadat, tata adat keraton, seni budaya, serta tradisi yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Salah satu tradisi yang disebut dalam publikasi Diarpus Kukar adalah Erau. Tradisi tersebut menjadi bagian dari warisan Kesultanan Kutai yang terus dikenal masyarakat dan hadir dalam kehidupan budaya Kutai Kartanegara.
Pameran tidak hanya menampilkan sejarah sebagai urutan nama pemimpin dan tahun pemerintahan. Arsip yang disajikan juga memperlihatkan hubungan antara kesultanan, kebudayaan, tata kehidupan masyarakat, dan pembentukan identitas daerah.
Akses sejarah tidak lagi dibatasi lokasi
Kehadiran pameran virtual memperluas kesempatan masyarakat untuk mempelajari sejarah lokal. Pelajar dapat menggunakannya sebagai bahan pembelajaran, sedangkan mahasiswa, akademisi, dan peneliti dapat menjadikannya sebagai pintu awal untuk menemukan sumber arsip yang relevan.
Pemerhati sejarah dan budaya juga dapat membandingkan informasi dari pameran dengan buku, penelitian, maupun koleksi lain. Meski demikian, materi pameran sebaiknya tetap dibaca bersama keterangan arsip agar konteks waktu, tokoh, dan peristiwanya tidak terlepas.
JIKN merupakan layanan informasi kearsipan nasional yang dikelola Arsip Nasional Republik Indonesia. Portal tersebut menghubungkan informasi arsip dari berbagai lembaga dan daerah sehingga masyarakat dapat menemukan dokumen yang secara fisik tersimpan di lokasi berbeda.
Pameran virtual menjadi salah satu fitur dalam portal tersebut. Arsip atau salinannya disusun dalam tampilan digital untuk keperluan pendidikan, pengembangan pengetahuan, serta perluasan akses masyarakat terhadap memori sejarah.
Model digital juga mengurangi hambatan jarak bagi masyarakat di luar Tenggarong maupun Kalimantan Timur. Materi mengenai Kesultanan Kutai dapat dipelajari kapan saja tanpa harus menunggu penyelenggaraan pameran fisik dalam periode tertentu.
Meski lebih mudah diakses, digitalisasi tidak menggantikan kebutuhan untuk merawat dokumen aslinya. Arsip fisik tetap perlu disimpan dalam kondisi yang sesuai karena menjadi sumber autentik yang merekam keputusan, kegiatan, hubungan sosial, dan perjalanan sebuah pemerintahan.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebelumnya menetapkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pelestarian Adat Istiadat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Pameran virtual menjadi salah satu cara memperkenalkan warisan tersebut kepada masyarakat melalui teknologi yang lebih dekat dengan generasi muda.
Diarpus Kukar mengajak pelajar, mahasiswa, peneliti, akademisi, dan masyarakat umum memanfaatkan kedua seri pameran sebagai media pembelajaran. Pengunjung dapat memulai dari sejarah kepemimpinan, kemudian melanjutkan penelusuran menuju adat, seni, tradisi, dan berbagai peristiwa yang membentuk perjalanan Kutai Kartanegara.
Akses terbuka tersebut membuat arsip Kesultanan Kutai tidak hanya tersimpan sebagai koleksi lembaga. Dokumen dan foto yang sebelumnya sulit dijangkau kini dapat digunakan untuk mengenal sejarah daerah, memeriksa kembali informasi masa lalu, dan memahami asal-usul sejumlah tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat.
Akses Pameran Virtual Kesultanan Kutai: https://jikn.anri.go.id/pameran-virtual/501






