Maryati, di Antara Derit Jembatan dan Siluet Suzzanna

KOTA selalu punya cerita sendiri untuk menyimpan rahasia. Di Balikpapan, kota yang tumbuh dari tetesan minyak dan debu pelabuhan, nama “Maryati” bukan sekadar identitas, melainkan sebuah mitos yang berakar di sela-sela beton jembatan. Namun, jika kita bersedia menepi sejenak dari hiruk-pikuk cerita horor yang lazim beredar, kita akan menemukan sebuah narasi manusiawi yang lebih sunyi—sebuah kisah tentang seorang wanita, harga diri, dan jejak yang tertinggal di tanah Kalimantan.

 

Bacaan Lainnya

Lahir di tanah Jawa dan menyeberang ke kawasan Geronteng, Maryati adalah potret nyata dari diaspora masa pasca-kemerdekaan. Ia bukan sekadar penghuni kota; ia adalah figur sentral di sebuah kawasan yang dikenal sebagai Benteng. Parasnya konon serupa dengan Suzzanna—sang ratu sinema horor Indonesia—dengan tatapan yang tajam namun menyimpan rahasia. Sebagai “induk semang,” ia berdiri di garis depan realita sosial yang keras, memimpin puluhan wanita dalam bisnis yang seringkali dipandang sebelah mata oleh moralitas zaman, namun tetap eksis di balik bayang-bayang kota industri.

 

Menariknya, Maryati bukanlah milik semua orang. Ia adalah eksklusivitas di tengah hiruk-piruk kelas pekerja. Konon, ia hanya bersedia menerima pria-pria berkasta tinggi, sebuah bentuk pertahanan diri atau mungkin cara ia menjaga martabat di tengah profesi yang rentan.

 

Seiring waktu, kematiannya di Rumah Sakit Umum pertama di Balikpapan justru melahirkan “kehidupan” baru dalam bentuk legenda urban. Masyarakat lebih senang merawat cerita tentang arwah penasaran yang mengganggu pelintas jembatan ketimbang mengingat sosok ibu yang memiliki seorang putra bernama Eddy. Nama “Maryati” pun akhirnya mengkristal menjadi nama sebuah jembatan. Dari jembatan kayu yang merintih tiap kali diinjak, hingga kini menjadi beton yang kokoh, nama itu tetap melekat, seolah ia adalah penjaga yang menolak untuk dilupakan.

 

Namun, pengakuan seorang pria sepuh dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan membawa kita kembali ke bumi. Melalui persahabatannya dengan Eddy, putra tunggal Maryati, kita diingatkan bahwa Maryati bukanlah entitas gaib yang haus perhatian. Ia adalah seorang ibu yang peristirahatan terakhirnya berada di sunyinya tanah Teritip, Balikpapan Timur. Penegasan bahwa ia tidak “mengganggu” adalah sebuah upaya untuk mengembalikan kehormatan seorang manusia dari cengkeraman mitos yang seringkali kejam.

“Saya bersahabat dengan anak tunggal Ibu Maryati, namanya Eddy. Itu sekitar tahun 60-an,” kisahnya, mengenang persahabatannya dengan Eddy.

Ia menguraikan, Maryati memang sempat dirawat di RSU, tapi kemudian dibawa Eddy ke daerah Teritip dan meninggal, lalu dimakamkan di pemakaman umum Teritip.

Saat ini, pria itu melakoni sebagai jukir di kawasan Jembatan Maryati di mana di sisi jembatan ada penjual nasi kuning yang juga kondang dengan nama Nasi Kuning “Jembatan Maryati”.

 

Legenda Jembatan Maryati akhirnya menjadi cermin bagi kita semua. Ia menunjukkan bagaimana sebuah kota seringkali lebih memilih untuk mengenang sisi misterius seseorang daripada memori tentang keberadaannya yang nyata. Maryati, dengan segala kompleksitas hidupnya, kini abadi bukan karena rasa takut yang ia tebar, melainkan karena namanya telah menyatu dengan nadi transportasi Balikpapan—sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu yang penuh warna dengan masa kini yang terus melaju.

 

Setiap kali kendaraan dan pejalan kaki melintas di sana, mereka sebenarnya sedang melewati sebuah sejarah. Sebuah catatan tentang seorang wanita cantik yang hidup di masa lalu, tentang prasangka masyarakat, dan tentang bagaimana sebuah nama mampu bertahan lebih lama daripada tubuh yang memilikinya. Jembatan itu berdiri tegak, menjadi saksi bisu bahwa legenda Maryati akan terus mengalir, sama seperti air yang mengalir di bawahnya.***

 

Pos terkait