Para pelajar di SMA Muhammadiyah Tenggarong diperkenalkan cara menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung kegiatan belajar mandiri. Dalam pelatihan yang digelar akademisi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) pada Jumat, 24 Juli 2026, AI diposisikan sebagai alat bantu memahami pelajaran, bukan jalan pintas untuk mendapat jawaban tanpa berpikir.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini mengangkat tema “Pelatihan Pemanfaatan Aplikasi Kecerdasan Buatan (AI) untuk Mendukung Self-Directed Learning Siswa SMA Muhammadiyah Tenggarong”. Program ini didukung oleh Beimbai Grant dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UMKT. (sumber: Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur)
AI sebagai Asisten Belajar, Bukan Mesin Jawaban
Materi utama yang disampaikan Ferry Fadzlul Rahman, salah satu dosen UMKT, memperkenalkan AI sebagai asisten pribadi bagi siswa. Menurutnya, teknologi ini bisa dipakai untuk membantu menjelaskan materi rumit, memberikan contoh tambahan, atau menyusun tahapan belajar yang lebih terstruktur.
“Misalnya, siswa dapat meminta AI menjelaskan kembali konsep matematika dengan bahasa yang lebih sederhana,” jelasnya. Selain itu, AI juga dapat dimanfaatkan untuk membuat soal latihan, mencari perbedaan antara dua konsep, atau meminta contoh penerapan teori dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini berbeda jauh dengan praktik memasukkan seluruh soal tugas lalu menyalin jawaban yang muncul. AI justru lebih bermanfaat ketika siswa sudah mencoba memahami masalah terlebih dahulu, lalu menggunakannya untuk menguji pemikiran atau menemukan bagian yang belum dipahami.
Penting untuk diingat, jawaban AI tidak selalu benar. Sistem dapat memberikan informasi yang terlihat meyakinkan padahal keliru atau tidak sesuai konteks. Karena itu, siswa tetap harus memverifikasi informasi dari AI dengan buku pelajaran, materi dari guru, atau sumber tepercaya lainnya. UNESCO sendiri menekankan kemampuan menilai hasil AI secara kritis sebagai kompetensi penting bagi pelajar di era digital. (sumber: UNESCO)
Peran Guru Tetap Penting dalam Belajar Mandiri
Konsep self-directed learning atau belajar mandiri berarti siswa mengambil peran aktif dalam mengatur proses belajarnya sendiri. Mereka belajar mengenali materi yang belum dikuasai, menentukan target, memilih sumber, hingga mengevaluasi kemajuan.
AI bisa membantu beberapa tahap tersebut, seperti menyusun rencana belajar mingguan atau membuat kuis singkat. Namun, belajar mandiri bukan berarti belajar tanpa bimbingan. Peran guru tetap tak tergantikan untuk memastikan materi sesuai kurikulum, memperbaiki kesalahan pemahaman, dan memberi konteks pelajaran.
Hubungan antara guru, siswa, dan AI perlu diatur dengan jelas. Guru bertugas menentukan tujuan pembelajaran dan batasan penggunaan teknologi, sementara siswa tetap bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. AI hanyalah alat pendukung, bukan pengambil alih tugas keduanya.
Risiko dan Etika Penggunaan AI di Sekolah
Penggunaan AI menjadi masalah saat siswa menyerahkan seluruh proses berpikirnya ke aplikasi. Menyalin esai atau jawaban ujian memang membuat pekerjaan cepat selesai, tetapi kemampuan menalar dan menulis tidak akan berkembang.
Siswa juga perlu berhati-hati saat memasukkan informasi ke aplikasi AI. Data pribadi seperti nomor identitas, alamat, password, atau dokumen sekolah yang bersifat rahasia sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam kolom percakapan untuk menghindari risiko penyalahgunaan.
Pedoman dari pemerintah Indonesia juga menekankan pemanfaatan AI yang etis, aman, dan bertanggung jawab di lingkungan pendidikan. (sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah)
Setiap sekolah bisa menetapkan aturan yang berbeda. AI mungkin boleh dipakai untuk mencari ide atau memperbaiki kalimat, tetapi dilarang saat ujian. Siswa pun dianjurkan untuk transparan jika menggunakan AI, dengan tetap membaca ulang hasilnya, membandingkannya dengan sumber lain, dan menyajikan gagasan dengan bahasa sendiri.






