BALIKPAPAN, Kaltimku.id — Suasana di depan Kantor KSOP Kelas I Balikpapan, Kamis (10/9/2026), terasa tegang namun tertib. Ratusan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) yang tergabung dalam Serikat Pekerja Transport Indonesia (SPTI) Khusus TKBM Koperasi Karya Samudera Sakti turun ke jalan, menyuarakan tuntutan yang sudah lama menjadi keresahan mereka: kepastian pekerjaan dalam kegiatan ship to ship (STS) batu bara di perairan Balikpapan.
Di bawah terik matahari, orasi bergema. Para pekerja menegaskan, aksi ini bukan sekadar protes sesaat, melainkan perjuangan untuk memastikan nafkah keluarga tetap terjamin.
“Tidak akan ada perjuangan yang berakhir kalau tidak disepakati. Hari ini kita tidak akan pulang sebelum ada jalan keluar!” tegas seorang orator di hadapan massa yang padat.
Ancaman pun disampaikan: jika tuntutan tidak segera ditindaklanjuti, gelombang aksi berikutnya akan lebih besar dan lebih luas.
“Kalau belum ada kepastian, kami akan kembali dengan jumlah massa yang jauh lebih besar. Sampai ada keputusan dari KSOP, perjuangan ini belum selesai,” ujar perwakilan pekerja.
Lima Tuntutan di Meja Perundingan
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan, pekerja mengajukan lima poin tuntutan yang ditujukan kepada KSOP Kelas I Balikpapan dan Kementerian Perhubungan:
1. Mewajibkan seluruh badan hukum pelaksana bongkar muat menggunakan TKBM dari Koperasi Karya Samudera Sakti untuk kegiatan STS batu bara, sesuai aturan yang berlaku.
2. Memberikan sanksi tegas kepada badan usaha yang melanggar ketentuan penggunaan TKBM koperasi.
3. Menyelesaikan dan menegakkan ketentuan hukum mengenai penggunaan TKBM koperasi di wilayah Pelabuhan Balikpapan, merujuk Surat Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut No. 026/1/4/2026.
4. Mendesak Kementerian Perhubungan menjatuhkan sanksi administratif kepada pihak yang tidak mematuhi regulasi di wilayah DLKM dan DLKP Balikpapan.
5. Memberikan jaminan tindak lanjut yang nyata, atau siap menghadapi aksi massa yang lebih besar.
KSOP Buka Ruang Dialog: Kita Cari Jalan Keluar, Bukan Saling Menyalahkan
Setelah menyampaikan aspirasi di depan gedung, perwakilan pekerja diterima untuk duduk bersama di dalam ruang pertemuan. Mereka juga meminta kehadiran perwakilan DPP SPT Pusat agar pembahasan lebih menyeluruh.
Kepala KSOP Kelas I Balikpapan, Capt. Weku Frederik Karuntu, M.M., M.H., membuka pertemuan dengan sikap terbuka. Ia menerima seluruh aspirasi dan memahami bahwa persoalan ini bukan sekadar urusan teknis pelabuhan, melainkan soal hidup matinya mata pencaharian ratusan keluarga.
“Kami prihatin. Kalau tidak dapat kesempatan kerja, bagaimana nasib keluarga? Saya memahami itu sepenuhnya,” ujar Weku.
Meski begitu, ia menegaskan semua pihak harus berpegang pada koridor hukum.
“Jangan lagi kita saling menyalahkan. Yang penting bagaimana aspirasi Bapak-Ibu bisa tersalurkan dan bisa dilaksanakan. Negara ini negara hukum, semua harus berjalan menurut aturan yang berlaku,” tegasnya.
Weku juga berharap penyelesaian di Balikpapan bisa menjadi contoh sekaligus bahan evaluasi untuk daerah lain yang menghadapi persoalan serupa.
Aksi Berjalan Tertib, Polisi Apresiasi
Kapolsek Pelabuhan Semayang, Kompol Yusuf, SH, MH, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta aksi. Menurutnya, demonstrasi berjalan aman, tertib, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan.
“Kami apresiasi rekan-rekan serikat pekerja. Aksi berjalan tertib, tidak mengganggu pengguna jalan, sehingga pengamanan bisa berjalan lancar,” ujar Yusuf.
Pertemuan pun berlangsung untuk mencari titik temu. Di satu sisi, para pekerja menuntut keadilan dan kepastian kerja. Di sisi lain, KSOP berkomitmen menindaklanjuti dengan tetap berpegang pada regulasi. Hasil dari pertemuan ini akan menjadi penentu: apakah perjuangan ini akan berakhir di meja perundingan, atau kembali turun ke jalan dengan skala yang lebih besar.***








