BALIKPAPAN, Kaltimku.id — Tren harga di Kalimantan Timur terbelah pada Agustus 2026, Kota Balikpapan berhasil mencatat deflasi 0,03% (mtm), sedangkan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mencatatkan inflasi 0,52% (mtm). Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 3,79% (yoy) dan PPU 3,68% (yoy) — keduanya masih di atas inflasi nasional 3,19%, namun di bawah rata-rata gabungan empat kota Kaltim (3,83%). Sepanjang tahun, inflasi tahun kalender Balikpapan 2,47%, PPU 3,53%.
Balikpapan: Harga Turun, Tapi Tekanan Tetap Ada
Deflasi di Balikpapan utamanya didorong kelompok transportasi (andil 0,26%), didukung penurunan harga avtur dan Pertamax per 1 Agustus, serta turunnya harga bawang merah, tomat, dan kangkung berkat pasokan melimpah dari daerah sentra.
Namun kelompok makanan, minuman & tembakau tetap memberi tekanan (andil 0,18%). Komoditas seperti ikan layang, cabai rawit, kacang panjang, jagung manis, dan ketimun naik harga akibat pasokan terbatas dan pengaruh cuaca kemarau.
PPU: Tekanan Kuat dari Bahan Pangan
Di PPU, inflasi utamanya bersumber dari kelompok makanan, minuman & tembakau (andil 0,41%). Pemicu utamanya: daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, buncis, dan jasa servis. Harga naik karena pasokan menurun akibat cuaca kemarau, gelombang laut tinggi, serta kenaikan biaya pakan dan suku cadang.
Sebaliknya, tomat, bawang merah, ikan layang, kelapa, dan bawang putih justru turun harga berkat membaiknya pasokan.
Langkah Nyata Jaga Stabilitas
TPID di kedua wilayah terus bergerak aktif:
– Gerakan Pangan Murah: Balikpapan 87 kali, PPU 27 kali sepanjang 2026
– Operasi pasar & Kios GESIT untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok
– Kerja Sama Antardaerah dengan Karo, Bulukumba, dll. amankan pasokan hortikultura
– Pemantauan harga & neraca pangan secara terintegrasi dengan sistem peringatan dini
– High Level Meeting gabungan Balikpapan–PPU–Paser sinkronkan strategi kendalikan inflasi
Waspada El Niño & Musim Kemarau
Puncak kemarau diprediksi di Triwulan III 2026. Dampak El Niño bisa menekan produksi pangan, sementara permintaan diperkirakan terus meningkat. Bank Indonesia Balikpapan bersama TPID terus memperkuat sinergi lewat GPIPS agar inflasi tetap dalam sasaran 2,5% ± 1%.
“Sejumlah langkah strategis dalam pengendalian inflasi daerah terus ditempuh oleh TPID di kedua wilayah untuk mendukung kelancaran pasokan dan distribusi, serta terjaganya ketersediaan stok komoditas pangan strategis,” kata Robi Ariadi, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, Kalimantan Timur.***






