Kemenekraf Pacu Ekonomi Kreatif Digital Lewat IN-APPS 2026

Kemenekraf Pacu Ekonomi Kreatif Digital Lewat IN-APPS 2026

Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) meluncurkan Indonesia Application Summit (IN-APPS) 2026 sebagai langkah strategis untuk mengakselerasi ekosistem aplikasi digital nasional. Inisiatif yang diresmikan di BSD City, Tangerang, ini menjadi jawaban pemerintah atas merosotnya peringkat daya saing digital Indonesia di kancah global, sekaligus berupaya memaksimalkan potensi investasi di subsektor aplikasi yang telah menembus Rp54 triliun.

Penyelenggaraan forum ini dipicu oleh data yang mengkhawatirkan dari IMD World Digital Competitiveness Ranking 2025. Peringkat Indonesia terjun bebas delapan tangga, menempatkan negara pada urutan ke-51 dari 69 negara. Penurunan tajam ini memaksa pemerintah merombak total cetak biru pengembangan industri untuk mengejar target ambisius masuk ke jajaran 20 besar dunia.

Bacaan Lainnya

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menjelaskan bahwa paradigma industri telah bergeser. Aplikasi tidak lagi dipandang sebagai produk teknologi semata, tetapi telah menjadi motor penggerak utama. “Aplikasi digital hari ini bukan sekadar produk teknologi, melainkan mesin baru penggerak ekonomi kreatif nasional,” tegas Riefky, menggarisbawahi pentingnya sinergi lintas sektor untuk membentengi talenta lokal dari persaingan global.

Akselerasi Ekosistem dan Aliran Investasi

Puncak acara IN-APPS 2026 dijadwalkan berlangsung pada 16-17 September 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE). Mengusung tema “Application as the New Engine of Creative Economy Growth”, perhelatan ini sukses menggandeng partisipasi aktif dari Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia (ASPILUKI), investor ventura, hingga korporasi teknologi multinasional.

Forum ini dirancang untuk mereplikasi keberhasilan raksasa teknologi domestik seperti Gojek, Tokopedia, dan Traveloka. Ketiganya terbukti mampu mendominasi pasar regional berkat keunggulan rekayasa perangkat lunak. Harapannya, interaksi intensif antara pengembang lokal dan investor institusional dapat memicu gelombang investasi baru untuk melahirkan perusahaan rintisan (startup) bernilai tinggi. Pameran akan menyajikan berbagai inovasi terapan, mulai dari integrasi kecerdasan buatan, komputasi awan, hingga sistem keamanan siber untuk aplikasi finansial.

Untuk mendukung target tersebut, Kemenekraf bersinergi dengan Sinar Mas Land untuk mengembangkan kawasan D-HUB di Biomedical Campus, Tangerang, sebagai inkubator teknologi tinggi. Keberadaan infrastruktur jaringan optik berkecepatan tinggi dan pusat data terintegrasi diharapkan mampu memangkas siklus pengembangan produk. Fasilitas ini memungkinkan purwarupa aplikasi melewati tahap validasi lebih cepat sebelum diluncurkan ke pasar konsumen.

Validasi Angka dan Dukungan Regulasi

Data investasi menunjukkan subsektor aplikasi menjadi kontributor dominan dalam ekonomi kreatif. Suntikan modal sebesar Rp54,18 triliun membuktikan bahwa industri perangkat lunak adalah tulang punggung utama ekspor jasa kreatif Indonesia. Angka ini secara signifikan melampaui ekspektasi pasar dan memvalidasi arah kebijakan pemerintah.

Presiden telah mengesahkan Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026–2045 yang memberikan landasan hukum kuat bagi Kemenekraf untuk mempercepat program peningkatan kapasitas talenta digital. Salah satu fokus utamanya adalah perlindungan kekayaan intelektual (HKI) untuk melindungi lisensi perangkat lunak pengembang lokal dari pembajakan. Asosiasi seperti APTIKNAS yang menaungi lebih dari 2.000 perusahaan teknologi juga berkomitmen untuk menutup kesenjangan antara kurikulum pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri pemrograman terkini.

Total investasi sektor ekonomi kreatif nasional menyentuh angka absolut Rp183,01 triliun dengan akumulasi pertumbuhan bertengger konstan di level 32,23 persen.

Pos terkait