Mahasiswa ITK Rancang Model Resiko Ransomware untuk Asuransi Siber

Mahasiswa ITK Rancang Model Resiko Ransomware untuk Asuransi Siber

Tiga mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan mengembangkan model resiko ransomware untuk membantu perusahaan fintech memperkirakan potensi kerugian akibat serangan siber. Karya tersebut menggabungkan Teknik Industri, Aktuaria, dan keamanan siber dalam satu perhitungan yang dapat digunakan sebagai dasar menentukan premi asuransi.

Tim ITK terdiri dari Muhammad Rihzky Anugrah dan Senda Saputra dari Program Studi Teknik Industri angkatan 2023, serta Vina Agustina dari Program Studi Aktuaria angkatan 2023. Mereka dibimbing oleh Wahyu Dwi Lesmono, S.Si., M.Si.

Bacaan Lainnya

Karya berjudul “Model Kuantitatif Resiko Ransomware Berbasis Simulasi Monte Carlo untuk Optimalisasi Mitigasi dan Penentuan Premi Asuransi Siber pada Sektor Fintech” itu membawa tim ITK meraih Juara Harapan I dalam Jambi Accounting Competition Seminar National di Universitas Jambi.

Kerugian Ransomware Sulit Diperkirakan

Ransomware dapat mengunci data dan sistem penting, kemudian pelaku meminta pembayaran agar akses dipulihkan. Dalam beberapa kasus, data juga dicuri dan dijadikan alat untuk menekan korban.

Dampaknya tidak hanya berasal dari biaya tebusan. Perusahaan dapat kehilangan akses ke sistem operasional, menghentikan layanan, membayar proses pemulihan, menghadapi kebocoran data, dan menanggung kerusakan reputasi.

Cybersecurity and Infrastructure Security Agency atau CISA menyebut insiden ransomware dapat mengganggu proses bisnis dan membuat organisasi kehilangan akses ke data yang dibutuhkan untuk menjalankan layanan penting. Biaya pemulihan dan dampak reputasinya juga dapat membebani organisasi dalam waktu lama. (sumber: CISA)

Masalahnya, nilai kerugian dari setiap serangan tidak selalu sama. Perusahaan juga tidak memiliki banyak data historis yang bisa digunakan untuk memperkirakan seberapa sering serangan terjadi dan seberapa besar dampaknya.

Kondisi tersebut membuat cara menghitung resiko dan premi biasa belum tentu cukup untuk asuransi siber. Model perlu mempertimbangkan banyak kemungkinan, termasuk skenario dengan kerugian kecil hingga kejadian ekstrem yang dampaknya jauh lebih besar.

Model Menjalankan 10 Ribu Simulasi Serangan

Tim mahasiswa ITK menggunakan Simulasi Monte Carlo sebanyak 10.000 iterasi. Metode ini menjalankan banyak skenario berdasarkan sejumlah kemungkinan serangan dan nilai kerugian, kemudian melihat pola hasil yang muncul.

Dari simulasi tersebut, tim menghasilkan dua ukuran utama. Pertama adalah Annual Loss Expectancy atau ALE untuk memperkirakan rata-rata kerugian yang mungkin ditanggung perusahaan dalam satu tahun.

Ukuran kedua adalah Value at Risk 99 persen. Perhitungan ini digunakan untuk melihat potensi kerugian dalam kondisi ekstrem yang memiliki kemungkinan kecil, tetapi dapat membawa dampak besar.

Hasil simulasi kemudian dipakai sebagai dasar menghitung pure premium dan gross premium. Pure premium menggambarkan biaya yang dibutuhkan untuk menutup perkiraan kerugian, sedangkan gross premium memperhitungkan komponen lain yang dibutuhkan dalam produk asuransi.

National Institute of Standards and Technology atau NIST pada Juni 2026 juga merilis panduan manajemen resiko ransomware yang membantu organisasi mengukur kesiapan, memperkuat perlindungan, dan menangani dampak serangan. Pendekatan berbasis resiko dibutuhkan karena kebutuhan keamanan setiap perusahaan tidak selalu sama. (sumber: NIST)

Perhitungan Juga Dipakai Memilih Mitigasi

Model yang dibuat tim ITK tidak berhenti pada penentuan premi. Mereka juga menyusun Cost-Benefit Analysis untuk membandingkan biaya pengamanan dengan kerugian yang mungkin dapat dicegah.

Perusahaan dapat memakai hasil tersebut untuk menentukan langkah keamanan yang perlu didahulukan. Investasi tidak hanya dipilih karena teknologinya mahal atau sedang populer, tetapi karena manfaatnya dinilai sebanding dengan resiko yang dapat dikurangi.

Penyusunan karya dimulai dengan memilih masalah yang berkaitan dengan perkembangan keuangan digital. Tim kemudian mengambil subtema penguatan keamanan siber dan menggabungkan teknik simulasi dari Teknik Industri dengan perhitungan resiko serta premi dari Aktuaria.

Proses kompetisi berjalan dari penyusunan abstrak, pengembangan karya tulis ilmiah, hingga presentasi final secara langsung di Jambi. “Kami berharap ke depan dapat memberikan hasil yang lebih baik lagi bagi ITK,” ungkap tim.

Pos terkait