Modus Karyawan Palsu Dengan Deepfake Menjadi Ancaman Rekrutmen Perusahaan

Modus Karyawan Palsu Dengan Deepfake Menjadi Ancaman Rekrutmen Perusahaan

Modus karyawan palsu mulai menjadi ancaman baru bagi perusahaan yang menjalankan wawancara dan proses penerimaan pegawai secara online. Pelaku tidak lagi hanya mengirim CV dengan pengalaman kerja yang dilebih-lebihkan. Mereka dapat memakai identitas curian, profil profesional palsu, suara yang diubah dengan AI, sampai deepfake saat mengikuti video interview.

Di depan kamera, kandidat terlihat seperti pelamar biasa. Wajahnya sesuai dengan foto pada dokumen, jawabannya terdengar meyakinkan, dan kemampuan teknisnya tampak cocok dengan posisi yang dibutuhkan. Masalah baru terlihat setelah orang tersebut mendapat akun kerja, laptop perusahaan, dan akses ke sistem internal.

Bacaan Lainnya

Microsoft pada Maret 2026 melaporkan bahwa pelaku mulai memakai perubahan suara secara real time dan lapisan video deepfake untuk menyamarkan aksen, jenis kelamin, atau kewarganegaraan. Kelompok yang dilacak Microsoft sebagai Jasper Sleet juga terpantau memakai software pengubah suara ketika mengikuti wawancara kerja jarak jauh.

Deepfake Hanya Salah Satu Bagian dari Modus

Wajah palsu di layar bukan satu-satunya alat yang digunakan. Modus ini biasanya dibangun dari banyak bagian yang saling mendukung. Pelaku dapat mencuri identitas orang lain, membuat akun media sosial, menyiapkan website portofolio, menulis CV dengan bantuan AI, dan menyesuaikan pengalaman kerja berdasarkan lowongan yang sedang dibuka.

Microsoft menemukan pelaku mempelajari website karier dan portal rekrutmen untuk mencari posisi teknis yang tersedia. Informasi dari lowongan kemudian dipakai untuk membuat persona digital dan lamaran yang terlihat sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kandidat palsu tersebut dapat lolos tahap seleksi, mengikuti wawancara, bahkan menyelesaikan proses onboarding sebagai pegawai resmi.

Deepfake membantu menyamarkan orang yang tampil saat interview. Setelah diterima, pekerjaan belum tentu dilakukan oleh orang yang sama. Satu orang bisa muncul di depan kamera untuk melewati wawancara, sementara pekerjaan dan akses ke sistem perusahaan dikendalikan oleh orang lain dari lokasi berbeda.

FBI juga mengingatkan bahwa pihak ketiga di negara tempat perusahaan berada dapat membantu pelaku. Mereka menerima laptop kantor, memasang aplikasi remote desktop, membuat akun pembayaran, menghadiri meeting atas nama kandidat, atau mengirim ulang perangkat ke luar negeri. Laptop tetap terlihat aktif dari alamat lokal, padahal orang yang mengendalikannya berada di negara lain.

Laptop Farm Membuat Lokasi Palsu Terlihat Meyakinkan

Salah satu bagian penting dalam modus karyawan palsu adalah penggunaan laptop farm. Istilah ini mengacu pada kumpulan laptop perusahaan yang disimpan di sebuah rumah atau lokasi tertentu, lalu diakses dari jarak jauh oleh pekerja yang sebenarnya.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Mei 2026 mengungkap kasus seorang fasilitator yang membantu sedikitnya tiga pekerja IT Korea Utara mendapat pekerjaan di perusahaan AS. Laptop milik perusahaan dikirim ke tempat tinggal fasilitator di New York, kemudian dipasangi software akses jarak jauh agar pelaku dari luar AS terlihat seolah-olah bekerja dari alamat tersebut. Jaringan itu diduga mendapat pekerjaan dari lebih dari 64 perusahaan dan menerima pembayaran gaji lebih dari 943 ribu dolar AS.

Perusahaan yang menjadi korban tidak hanya kehilangan uang untuk membayar gaji. Dalam kasus tersebut, biaya untuk memeriksa dan memperbaiki perangkat, jaringan, serta sistem perusahaan dilaporkan melampaui 1 juta dolar AS. Kasus laptop farm lain menyebabkan sedikitnya empat perusahaan membayar lebih dari 250 ribu dolar AS kepada pekerja palsu, disertai biaya pemulihan sistem lebih dari 500 ribu dolar AS.

Risikonya menjadi lebih besar ketika posisi yang ditembus memiliki akses ke source code, data pelanggan, server, sistem pembayaran, atau dashboard internal. Pelaku bisa bekerja seperti pegawai biasa selama beberapa waktu sambil mempertahankan akses yang dapat digunakan untuk mencuri data, melakukan pemerasan, atau membantu serangan berikutnya.

Mandiant mencatat pekerja IT palsu sering melamar posisi yang sepenuhnya remote dan kadang menjalankan beberapa pekerjaan dalam waktu bersamaan. Sebagian dari mereka mendapat izin untuk mengubah kode atau mengelola jaringan karena posisi teknis memang membutuhkan akses tersebut. Hak akses yang tinggi membuat karyawan palsu berubah menjadi ancaman dari dalam perusahaan.

Tanda yang Perlu Diperiksa Saat Wawancara

Deepfake yang dipakai dalam interview tidak selalu terlihat seperti video rusak. Teknologinya dapat berjalan cukup halus, terutama ketika kualitas kamera rendah atau kandidat memakai latar belakang virtual. Tanda kecil biasanya muncul saat wajah tertutup tangan, gerakan bibir tidak sepenuhnya cocok dengan suara, ekspresi terlihat terlambat, atau bagian tepi wajah berubah ketika kepala bergerak cepat. Microsoft menyebut ketidaksesuaian audio dan visual serta kegagalan saat wajah tertutup benda sebagai petunjuk yang perlu diperhatikan.

Namun, perusahaan tidak sebaiknya hanya mengandalkan kemampuan staf HR untuk mengenali wajah buatan. Deepfake akan terus membaik, sedangkan koneksi internet yang lambat bisa membuat kandidat asli terlihat mencurigakan. Pemeriksaan identitas perlu dilakukan melalui beberapa lapisan.

  • Cocokkan nama, foto, nomor handphone, alamat, dan email dengan profil profesional serta dokumen lain.
  • Hubungi langsung perusahaan atau kampus yang tercantum dalam riwayat kandidat.
  • Minta kandidat menyalakan kamera tanpa efek dan latar belakang yang menutup ruangan.
  • Bandingkan orang yang hadir saat interview dengan orang yang muncul dalam meeting setelah diterima.
  • Kirim laptop hanya ke alamat yang sudah diverifikasi dan sesuai dengan dokumen identitas.
  • Jangan memberikan akses ke sistem penting sebelum pemeriksaan latar belakang selesai.

FBI bahkan menyarankan pewawancara meminta kandidat menggerakkan tangan di depan wajah karena gerakan tersebut dapat mengganggu video yang dibuat dengan AI. Perusahaan juga dapat mengambil gambar kandidat saat interview untuk dibandingkan dengan pertemuan berikutnya.

Perubahan alamat pengiriman laptop juga perlu diperiksa. Mandiant menemukan pola kandidat mengaku tinggal di satu lokasi, tetapi meminta perangkat dikirim ke alamat lain. Permintaan semacam ini belum tentu penipuan, tetapi perlu diikuti pemeriksaan tambahan sebelum laptop dan akun perusahaan diberikan.

Rekrutmen online tetap memberi perusahaan akses ke tenaga kerja dari banyak kota dan negara. Celahnya muncul ketika video call dianggap cukup untuk membuktikan identitas seseorang. Dalam modus karyawan palsu, wajah di layar, nama pada CV, alamat pengiriman laptop, pemilik rekening, dan orang yang menjalankan pekerjaan bisa berasal dari pihak yang berbeda.

Pos terkait