Puluhan pelaku UMKM di Kutai Kartanegara (Kukar) mendapat kesempatan untuk memamerkan produk sekaligus belajar cara mengembangkan bisnis dalam acara expo dan pelatihan UMKM Next Level. Kegiatan ini digelar di area parkir Bappeda Kukar, Tenggarong, pada Rabu, 29 Juli 2026, dari pagi hingga sore hari.
Acara ini merupakan bagian dari kolaborasi pembinaan usaha yang terkait dengan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL). Menurut informasi dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, tujuannya adalah membantu pelaku usaha agar bisnisnya tidak berhenti pada skala yang sama.
Manfaat Expo: Uji Pasar dan Evaluasi Produk
Expo menjadi ajang bagi UMKM untuk menampilkan beragam produk lokal, mulai dari makanan, minuman, kerajinan, hingga fesyen. Namun, manfaatnya tidak hanya sebatas penjualan selama acara berlangsung. Momen ini juga menjadi kesempatan emas untuk menguji respons pasar.
Pertanyaan dari pengunjung, misalnya soal komposisi, daya tahan, varian rasa, atau harga reseller, bisa menjadi masukan berharga. Jika banyak yang bertanya, artinya informasi tersebut perlu diperjelas pada kemasan atau katalog online. Begitu pula dengan produk yang sering dilihat tapi jarang dibeli, ini bisa menjadi sinyal untuk mengevaluasi kembali harga, kemasan, atau cara penawaran.
Rancangan awal kegiatan menyiapkan sekitar 50 tenda bazar, dengan 24 stan di antaranya dialokasikan untuk UMKM binaan perusahaan sebagai bagian dari program TJSL. Pelaku usaha dianjurkan mencatat produk yang paling diminati, jam ramai pengunjung, dan masukan yang diterima untuk pengembangan bisnis ke depan.
Apa Artinya UMKM ‘Naik Kelas’?
Istilah UMKM “naik kelas” sering diartikan sebagai peningkatan omzet atau kapasitas produksi. Meski penting, pertumbuhan usaha yang sehat juga membutuhkan pengelolaan yang lebih rapi. Pelatihan UMKM Next Level dalam acara ini diarahkan untuk membahas aspek tersebut.
Salah satu kuncinya adalah memahami biaya produksi secara detail, mulai dari bahan baku, kemasan, listrik, hingga biaya promosi di marketplace. Tanpa perhitungan yang cermat, penentuan harga jual bisa keliru. Selain itu, saat pesanan meningkat, standar produk harus dijaga agar kualitasnya tidak menurun, misalnya rasa makanan yang berubah atau ukuran yang tidak konsisten.
Digitalisasi juga dibahas lebih dari sekadar memiliki akun media sosial. Pelaku UMKM perlu menyiapkan foto produk yang jelas, nama yang mudah dicari, nomor kontak aktif, katalog, hingga prosedur menangani komplain pelanggan. Pendampingan berkelanjutan diharapkan dapat membantu UMKM menerapkan ilmu yang didapat dari pelatihan.
Kolaborasi Pemda dan Perusahaan untuk Pemberdayaan UMKM
Acara ini digelar dalam rangkaian Musrenbang TJSL, sebuah forum yang mempertemukan pemerintah daerah dengan perusahaan untuk menyelaraskan program sosial. Pemerintah mendorong perusahaan untuk melibatkan UMKM binaannya dalam expo agar mereka bisa menunjukkan perkembangan usahanya kepada publik.
Program pembinaan diharapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap UMKM. Usaha yang baru mulai mungkin butuh bantuan legalitas dan kemasan, sementara yang sudah berjalan bisa jadi memerlukan alat produksi, sertifikasi, atau tambahan modal kerja. Dalam acara ini, juga diadakan talkshow yang membahas akses pembiayaan, termasuk Kredit Kukar Idaman dari Bankaltimtara.
Meski begitu, pelaku UMKM diimbau untuk cermat sebelum mengambil pinjaman. Tambahan modal akan sangat bermanfaat jika digunakan untuk meningkatkan kapasitas atau efisiensi, tetapi bisa menjadi beban jika tidak diimbangi perhitungan arus kas dan potensi penjualan. Kolaborasi ini juga diharapkan memiliki tindak lanjut untuk memantau perkembangan UMKM setelah acara selesai, bukan hanya dari jumlah peserta pelatihan.






