Setelah Minyak Goreng, Harga Cabai Rawit di PPU Ikut Merangkak Naik

Sejak pekan ini, harga cabai rawit di Kabupaten PPU mengalami kenaikan
Sejak pekan ini, harga cabai rawit di Kabupaten PPU mengalami kenaikan

Kaltimku.id, PPU – Setelah harga minyak goreng melonjak dalam dua pekan terakhir, sekarang komoditas cabai rawit juga mengalami kenaikan. Mulai pekan ini, harga cabai rawit di wilayah Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim) naik antara Rp 35.000 – Rp 40.000 perkilo, dari harga sebelumnya Rp 25.000.

Kenaikan harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional, dipicu akibat tingginya curah hujan. Kondisi itu mempengaruhi hasil produksi cabai di tingkat petani. Cabai rawit di PPU banyak dipasok dari daerah Sulawesi.

Bacaan Lainnya

“Mulai minggu ini, pantauan kami di lapangan banyak pedagang yang mengatakan harga cabai naik, kisaran Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu,” kata Kasi Bina Pasar dan Distribusi Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (DisKUKM Perindag) Kabupaten PPU, Marlina, Kamis (18/11/21).

Selain faktor hujan, meningkatnya harga cabai juga disebabkan tingginya permintaan jelang hari besar nasional, seperti natal dan tahun baru. Pada momen hari besar keagamaan dan libur nasional, permintaan sejumlah komoditi pangan cenderung naik.

Meski cabai rawit juga disuply dari petani lokal, namun jumlahnya belum memenuhi kebutuhan masyarakat. Ditambah, para petani cabai yang sudah memiliki langganan dalam memasarkan hasil pertaniannya, sehingga tidak ada pemerataan distribusi. Sebagain besar komoditas pangan PPU masih mengandalkan pasokan dari luar daerah.

“Naiknya harga cabai juga dipengaruhi hukum pasar suply and demand. Dimana ketika ada permintaan naik maka harganya juga cenderung mengalami peningkatan,” tutur Marlina.

Upaya menekan harga cabai agar tidak semakin naik, jelas Marlina dengan melakukan monitoring di tingkat distributor. Terlebih, cabai menjadi salah satu komoditi yang mudah mengalami fluktuasi harga. Kendari terjadi kenaikan pada minyak goreng dan cabai rawit, namun harga komoditas pangan lainya terpantau dalam kondisi stabil.*

Editor: Hary T BS

Pos terkait