Ironi di Antara Debu Jalanan, Perjuangan Wahyudi Menyambung Asa

Catatan Tepi Jalan Herry Trunajaya BS

 

Bacaan Lainnya

Kaltimku.id — ​LANGKAH kakinya tampak sedikit goyah di antar debu jalanan dan di bawah terik matahari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur yang cukup menyengat, bayangan tubuh kurus Wahyudi tampak memanjang di atas aspal Jalan BJ BJ, Balikpapan Selatan, Senin (27/4/2026). Pria berusia 25 tahun asal Makassar ini adalah potret nyata dari ironi kehidupan, seorang perantau yang datang menjemput mimpi, namun justru disambut oleh getirnya pengkhianatan.

​Datang ke Kalimantan Timur pada akhir 2025 dengan harapan besar ikut membangun di sebuah proyek perumahan di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda, Wahyudi justru menjadi korban penipuan. Keringat yang diperasnya bersama rekan-rekan kerjanya menguap begitu saja tanpa upah sepeser pun setelah sang perekrut melarikan diri. Bukannya membangun rumah untuk orang lain, Wahyudi kini harus berjuang keras hanya untuk memastikan dapur di rumah sewaannya tetap mengepul.

“Saya dan teman-teman yang bekerja di proyek perumahan itu ditipu pemberi kerja yang melarikan diri, dan kami tak menerima upah sama sekali,” ujarnya dengan nada getir.

​​Setiap hari, Wahyudi memikul lebih dari sekadar keranjang plastik berisi aneka keripik. Di balik tali yang menyampir di bahunya, ada tanggung jawab besar yang ia bawa menyusuri jalanan dari simpang Jalan MT Haryono hingga ke Balikpapan Selatan dan kembali lagi ke daerah Kampung Baru.

Wahyudi tak malu untuk mengakui jika dirinya hanya seorang lulusan SMP di kampungnya. Ia sadar betul bahwa pintu perkantoran tertutup rapat baginya. Namun, gengsi tidak ada dalam kamusnya selama pekerjaan itu halal.

Peluh tampak membutir jagung di wajahnya, yang segera disekanya, dan sesekali membetulkan posisi Muhammad Syahril, putra sulungnya yang baru berusia lima tahun. Bocah itu juga tampak lelah, meski berada di gendongan sang ayah untuk ikut ayahnya berjualan karena sang ibu pun harus berkeliling menjajakan dagangan serupa di kawasan Kampung Baru.

​Meski wajahnya menyiratkan kelelahan yang mendalam, sinar matanya tetap menunjukkan daya juang. Wahyudi adalah gambaran pria yang menolak untuk menyerah pada keadaan.

​Kisah seorang perantau Wahyudi adalah pengingat bagi kita semua tentang sisi lain dari pembangunan daerah. Di balik megahnya proyek-proyek perumahan, ada jiwa-jiwa seperti Wahyudi yang kerap terlupakan dan tereksploitasi.

​Meski langkahnya terasa berat, ia tidak menutup diri terhadap peluang baru. “Saya tidak menolak jika ada yang memberi pekerjaan, seperti pembangunan rumah atau apapun itu, asal halal,” ucapnya lirih sambil menyeka keringat yang terus mengaliri wajah dan tentu juga sekujur tubuhnya yang dibalut baju kaos warna biru.

​Wahyudi dan keranjang keripiknya mungkin hanya satu dari sekian banyak pejuang hidup di trotoar Kota Balikpapan, namun semangatnya membuktikan bahwa martabat seseorang tidak diukur dari tingginya pendidikan, melainkan dari kejujuran dan kegigihan dalam menjaga nyawa keluarga kecilnya. Di tengah ironi yang menderanya, ia memilih untuk terus berjalan, menyisir harapan di setiap tikungan jalan.***

 

Pos terkait