Warga Maratua Kembangkan Batik Payung-Payung sebagai Ikon Wisata Baru

Warga Maratua Kembangkan Batik Payung-Payung sebagai Ikon Wisata Baru

Warga Kampung Payung-Payung di Maratua, Kabupaten Berau, mulai mengembangkan batik khas yang diharapkan menjadi identitas baru pariwisata pulau tersebut. Melalui program pendampingan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), produk kreatif ini tidak hanya disiapkan sebagai oleh-oleh, tetapi juga untuk mengangkat cerita lokal dan menambah pendapatan masyarakat.

Program ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat ITB yang sebelumnya sudah membina sektor pertanian di kampung tersebut. Kini, fokusnya diperluas untuk mengintegrasikan pertanian dengan pelestarian budaya batik demi mendukung pariwisata berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

“Kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui keterampilan berbasis budaya lokal yang memiliki nilai ekonomi,” jelas Mia Rosmiati, Ketua tim PPM ITB. Menurutnya, batik diharapkan dapat menjadi salah satu produk unggulan Maratua.

Dari Desain Motif hingga Pengelolaan Limbah

Sebanyak 20 warga mengikuti pendampingan yang dibagi dalam dua tahap sepanjang tahun 2026. Pelatihan pertama pada 22–26 Januari fokus pada keterampilan dasar, mulai dari merancang motif, membuat sketsa, menggunakan canting tulis dan cap sederhana, hingga proses pewarnaan dengan metode celup dan colet.

Peserta juga diajarkan teknik pelorodan untuk menghilangkan malam dari kain. Proses ini penting karena perajin perlu memahami seluk-beluk membatik, seperti aliran malam, komposisi desain, dan urutan pengerjaan agar hasilnya rapi.

Pada tahap kedua tanggal 17–20 Juli, pendampingan berlanjut dengan materi pengelolaan limbah produksi. Mengingat Maratua adalah kawasan wisata bahari, sisa malam dan air pewarna tidak boleh dibuang langsung ke lingkungan. Tim ITB menekankan pentingnya penanganan limbah agar usaha batik tidak merusak ekosistem pulau.

Selain itu, tim ITB juga memperkenalkan potensi tanaman lokal sebagai sumber pewarna alami. Pendekatan ini membuka peluang agar hasil pertanian kampung tidak hanya dijual mentah, tetapi juga memiliki nilai tambah sebagai bahan baku produk kreatif.

Peluang di Tengah Tantangan Pemasaran

Agar produk bisa dikenal luas, warga juga dibekali materi tentang branding, fotografi produk, dan pemasaran digital. Mereka berlatih membangun identitas merek, mengambil foto batik yang menarik, dan menyusun kalimat promosi untuk media sosial.

Label produk, misalnya, disarankan tidak hanya berisi nama barang, tetapi juga cerita di balik motif, nama pembuat, asal kampung, hingga cara perawatan. Informasi ini dapat memperkuat identitas Batik Payung-Payung dan membedakannya dari produk lain.

Salah satu peserta, Helin, mengaku awalnya mengira membatik itu sulit. Namun, ia merasa mampu mengikuti prosesnya karena setiap tahap diajarkan secara perlahan. Kemampuan teknis ini menjadi modal awal yang penting.

Meski begitu, jalan masih panjang. Warga perlu mengatur pembagian kerja, standar kualitas, penentuan harga, hingga cara memenuhi pesanan tanpa mengganggu aktivitas utama keluarga. Nama brand resmi, motif unggulan, kapasitas produksi, dan harga jual juga menjadi hal-hal yang perlu segera ditentukan agar batik ini benar-benar siap dipasarkan sebagai karya otentik masyarakat Maratua.

Pos terkait